Wednesday, 31 January 2018

Sulit Air dalam irama Pantun Minang

1. Pusuong

Apo guno losuong?
Untuok panumbuok pagi
Apo guno pusuong?
Panunjuok jalan di malam hari


2. Baliek Parik 


Kalakanji di Baliek Parik
Di sarowa inyo tasangkuik
Urang mati indak manggarik 
Nyawanyo tobang ka langik


3. Sakti


Bujang Sati urang Simabur
Di Tepi Air rumah isterinya
Walau sakti jangan takabur
Di Sulit Air tiada gunanya


4. Mahir


Engku Ruslan dari Bukit Kandung
Dahulu mengajar di sekolah Sulit Air
Sesuatu pekerjaan janganlah tanggung
Kalau belajar hendaklah mahir


5. Guguk Jonggi


Guguk Jonggi, Guguk Teragung
Tegak megah keduanya
Satu tinggi satu jangkung
Tampak gagah keduanya


6. Singkek Baringin


Singkek Baringin, Guguok Jaguong
Talatak di jorong Gando
Nyinyiek bacomin, datuok tamonuong
Samo tarogak ka maso mudo


7. Nyinyie


Ciek kinci-e, ciek endek
Samo-samo malanyau padi
Ciek nyinyi-e, ciek dedek
Samo-samo marisau ati


8. Limau Puruik


Limau Puruik hutan taratak
Singgah dulu di Kumbangan
Sakit perut menahan gelak
Sudah bercucu mengaku bujang


9. Sisunguik


Dari ma-a datang linta
Dari rumpuik turun ka kaki
Dari ma-a datang cinta
Dari sisunguik turun ka ati


10. Galu-galu


Galu-galu dan gula enau
Dimakan dengan kelapa parut
Malu-malu aku menghimbau
Takut tidak uda sahut


11. Ikan Silimang


Ikan silimang ditambah barau
Tali-tali tidak terpikirkan lagi
Tuan terbayang hati pun risau
Nasi tidak termakan lagi


12. Buah Dodok


Buah dodok, buah sicerek
Togak manjulang si bungo rayo
Darah tasirok manarimo surek
Kakak ka pulang di bulan iko

by : Hamdullah Salim

Tuesday, 31 October 2017

PRRI di nagari Suliek Ayie (II)


(Pendam pekuburan Pemuda PRRI di bukit Sarikie) 

Orang Sulik Aie jelas keturunan
Roslaini Rasyad anak-kamanakan Dt. Malin Sutan
Bersuku Simabua dalam catatan
Kepada penulis beliau ceritakan

Karena Allah Maha Pengatur
Ketika Sulik Aie sedang digempur
Banyak TP (Tentara Pejuang) mati gugur
Di bukik Sarikie mereka dikubur

Seregu pejuang berjumlah 12 orang
Mereka TP berasal dari kota Padang
Saat musuh datang menyerang
Tersesat jalan di kampung orang

Agar manusia tak ditimpa celaka
Berlayar perlu bernakhoda
Berjalan baik dengan yang tua
Bertempur wajib dipimpin perwira

Karena terpisah dari rombongan
Tiada perwira sebagai komandan
Prajurit tak tahu arah tujuan
Akibatnya seregu menjadi korban

Dalam suasana sangat mencekam
Ketika waktu mendekati malam
Dilereng bukit jenazah dipendam
Mereka dikubur secara Islam

Sebelum terjadi peristiwa pergolakan
Nagari dikelilingi hutan pesawangan
Banyak bukit tiada pepohonan
Batang kayu saling berjauhan

Bukit Sarikie menjadi saksi
Para pemuda pelajar PRRI
Mereka berkubur di hutan yang sunyi
Sebagai pejuang pembela demokrasi

Semua murid anak sekolah
Dari madrasah Muhammadiyah
Ke guguak Sarikie pergi ziarah
Mendaki bukit, menuruni lembah

Saat melewati padang terbuka
Mereka diam tanpa bicara
Takut dikira rombongan tentara
Menjadi objek serangan udara

Sepanjang ingatan sumber cerita
Dalam dua waktu yang berbeda
Sulik Aie ditembak pesawat udara
Meskipun tak banyak mati dan luka

Walau waktunya tidak dicatat
Roslaini Rasyad masih ingat
Ketika sekolahnya ditembak pesawat
Murid dan guru alhamdulillah selamat

Mungkin pilotnya salah duga
Sekolah madrasah dikira asrama
Bangunan permanen milik tentara
Tanpa teliti ditembak saja

Kejadiaan lain yang masih terkenang
Di dekat halaman surau Tobiang
6 orang TP nyawanya melayang
Ketika Sulik Aie dilanda perang

Akibat perang yang tidak bermoral
Orangpun berusaha mencari akal
Pindah ke kota menjadi professional
Tak lagi bertani di kampung asal

Roslaini Rasyad pindah ke Jogya
Untuk kuliah di IAIN Sunan Kalijaga
Setelah nikah membentuk keluarga
Kini menetap di Padang kota

Walau jauh di seberang pulau
Informasi penting untuk perantau
Kini bukit telah menghijau
Dihuni satwa burung berkicau

Dikarang : H. Si Am dt. Soda
Puisi dari : Hj. Nurhayati Amir (2015