Saturday, 31 August 2019

Sulit Air Great mosque

Siapa yang tidak kenal dengan Masjid Raya, adakah yang belum pernah mencoba sholat berjamaah di sajadah masjid ditengah nagari 13 jorong ini ? berarti dia belumlah melekat darah Sulit Air itu asumsi pribadi. Masjid raya adalah bagian dari kebanggaan ummat Muslim kecamatan X koto diatas, khusus nya nagari bergelar dimasa kerajaan pagaruyuang sebagai nagari Cumati koto piliang. 

Belum lama ini, ada keluarga dermawan domisili Jakarta, dengan penuh keikhlasan dan rasa cinta kepada negeri nya ingin mengabdikan dalam bentuk wakaf harta. Yakni keluarga (Alm) H. Marjohan ingin memperbaiki, memperbaharui Masjid Raya untuk lebih indah lagi. Sumbangan ini juga wujud amanah dari almarhum untuk ranah moyang nya & itu diteruskan kepada anak dan menantu (Alm) H. Marjohan untuk segera ditunaikan. Ya, kisah amanah tersebut hanyalah untuk memperindah masjid Raya bukan yang lain. Sepenggal kata dan cerita bisik-bisik yang didengar saat ini.

Pemerintah nagari melalui Ibu Wali Hj. Alex Suryani sudah purna dengan sikap nya untuk menyambut niat baik ini, diperantauan SAS bagian dari diaspora minang, diwakili oleh DPP SAS juga turut serta mengamini hajatan mulia ini. Serta beberapa pihak lain sebagai penyambung lidah, banyak yang ikut setuju.

Namun dalam hal ini, jika ada yang setuju tentu ada yang keberatan - tidak rela masjid ini dirobohkan. Apa sebab ? alasanya - Masjid belum lama dipugar, terakhir tahun 2016 merombak kubah dan atap habiskan dana lebih kurang 500 juta rupiah. Keengganan lainnya - masjid ini masih menyimpan banyak kenangan bagi mereka yang pernah sholat disini. Sebuah alasan logis masih bisa diterima akal sehat, itu tentu karena rindu dan cinta terhadap rumah Allah.

Setuju atau ditolak masjid ini dipugar ? Konservatif dalam bersikap, bisa membawa mudhorat dan juga manfaat. Namun dalam hal ini tentu dengan bijak kita akui, perubahan itu akan dan selalu terjadi sepanjang waktu sepanjang hari, tak terelakkan. Perubahan zaman, jika tidak ikut akan ketinggalan. Namun begitu kemajuan zaman, jangan pula terbawa godaan tetapi jangan pula terlena dengan masa silam. Sementara dilain tempat dan dimasa yang sama, nagari-nagari lain sudah menunjukan peran.

Blue print atau cetak biru masjid raya ini sudah dibuat, dengan konsultan keluarga beliau sendiri. Saran dan harapan kepada segala khalayak tetap diminta untuk menyempurnakan masjid ini nanti nya. Dalam rancangan nya, masjid ini mengambil disain berbagai masjid dibelahan dunia lain, seperti negara India, Turki. Dan itu perlu beberapa penyempurnaan lagi, seperti parkir untuk kendaraan, ruang aula, denah dua lantai, bahkan bak besar penampung air pun tidak luput dalam pemikiran bersama. 

Hingga nanti nya bisa memberi manfaat nyata untuk segenap masyarakat dinagari Sulit Air. Kalau melihat wujud arsitekturnya bisa angka milyaran rupiah yang beliau korbankan. Tentu itu dari donatur keluarga Almarhum.

Akhirnya kembali kepada masyarakat Sulit Air sendiri, apakah menyetujui ataukah menunda, mengalihkan, lalu bagaimana dengan sikap keluarga besar H. Marjohan menerimakah? Kabarnya dalam waktu dekat, segenap tokoh rantau dan perangkat nagari juga akan rembuk kembali di sebuah universitas besar di Jakarta. Tepat nya dikantor bapak Prof. Jurnalis Uddin ketua Yayasan Yarsi, yang juga turut serta menyumbang empat tahun silam memugar masjid raya.

Orang SAS atau Sulit Air itu kaya-kaya kata orang luar berucap, tidak benar dan tidak juga salah. Yang mendekati benar adalah orang Sulit Air itu, sangat cinta kepada nagari nya dan itulah yg terjadi. Polemik ini bagian dari dinamis nya masyarakat Sulit Air. Semoga saja kita bagian yang manusia membawa kebaikan untuk kampung halam nagari ampek suku ini.
Masjid Raya saat ini
--- Sekian ---

Monday, 31 December 2018

Ketua KAN yang baru, menjemput nagari beradat

Setelah menunggu beberapa waktu lama, bertempat di Balailamo tepat nya setelah lebaran Haji Idul Adha 1439 Hijriah tahun 2018, akhirnya pengganti bapak Hendri Dunant Dt. Endah Bongsu (Limo Singkek) dimufakati bersama oleh para angku datuk ampek jinih nan empat suku untuk menetapkan datuknya orang Simabur yang menjadi ketua KAN 2018-2022  yakni bapak Sukirman Dt. Panghulu Kayo. Proses terpilihnya beliau cukup berjalan alot namun penuh dengan pertimbangan dan tolak ukur untuk kemajuan bersama, mengapa dilimpahkan kepada datuk kaumnya Simabur Lubuk Siami ini? Adalah kemampuan dan kecakapan beliau untuk bermusyawarah menimbang raso yang diutamakan. Selain itu tentu domisili rantau beliau masih dikota Solok memudahkan konsolidasi fungsi KAN itu sendiri tak jauh dari nagari ranah cumeti koto piliang ini.

Sekarang keberadaan para datuk baik dirantau maupun di nagari Sulit Air terdata ada 115 orang datuk membawahi ampek suku, yakni Piliang, Limo Singkek, Limo Panjang & Simabur. Namun disayangkan tidak semua yang cukup waktu dan kesempatan menghadiri alek para angku datuk tersebut. Bisa dilihat dalam data kehadiran, cuma dihadiri 53 orang datuk baik dikampuang halaman maupun dari rantau. Jika dihitung kuota musyawarah sebenarnya tidak mencukupi 50 plus 1. Namun faktor kekosongan datuk dari masing masing suku turut mempengaruhi kehadiran beliau tersebut. 
Ketua KAN sekarang adalah ketua KAN datuk andiko ke-8 memimpin lembaga adat nagari Sulit Air semenjak tahun 1967. Beliau juga datuk pertama juga yang berasal dari Simabur, setelah tiga suku lainnya sudah pernah memimpin. Jikalau dilihat sumber informasi arsip nagari, datuk pertama dipimpin oleh orang Limo singkek adalah Dt. Bagindo Rajo dari tahun 1967-1982. Diteruskan oleh Dt. Bangso Rajo suku Limo Singkek cukup lama dari tahun 1982-1997. Selanjutnya diambil lagi oleh kaum Limo Singkek Dt. Tan Aceh dari 1997-2002. Pada pemilihan selanjutnya dipimpin Dt. Majo Indo dari Suku Piliang waktunya singkat selama tiga tahun dari 2002-2005. Musyawarah seterusnya dikuasakan KAN kepada Dt. Tumanggung dari suku LimoPanjang tahun 2005-2009. Uniknya Dt. Majo Indo orang Piliang kembali memimpin KAN dari tahun 2009-2014. Terakhir selama empat tahun ini dari tahun 2014-2018 di amanhkan kepada Dt. Endah Bongsu.

Sudah empat bulan pemilihan ketua KAN yang sah diajukan, namun sungguh sayang sampai akhir tahun 2018 ini struktur kepengurusan belum juga purna dikukuhkan bersama. Sempat beredar struktur pengurus di bulan november silam, dan bersiap dilantik bulan desember ini namun tak kunjung terjadi. Semoga tahun depan tahun 2019 semua kendala dan perbedaan bisa ditanggulangi. Banyak persoalan tanah ulayat, sengketa dengan negeri tetangga juga polemik keluarga memerlukan ranah hukum adat dan kekuasaan sang datuk untuk menengahi nya secara bijaksana. Apakah itu bisa, InsyaAllah.

--- Sekian ---