Friday, 15 July 2016

SAS sudah berusia 104 tahun (kisah ketiga)

Suasana Mubes SAS ke-XX (tahun2010), diselenggarakan di kampung halaman
MENJELANG KONPERENSI SAS CILOTO

Sebagai kelengkapan dan latar belakang lahirnya Konperensi Pembentukan DPP SAS di Ciloto Puncak tgl 3-5 Juli 1970, seperti telah diungkapakan pada serial sebelumnya, ada baiknya saya kemukakan berbagai peristiwa penting yang mendahuluinya sebagai berikut.

1. Tahun 1970 saya pandang sebagai tahun paling konduisif bagi penyelenggaraan suatu konperensi yang tujuannya untuk menyatukan SAS sebagai organisasi perantauan Sulit Air yang terpusat dan struktural. Artinya memiliki anggaran dasar dan anggaran (AD-ART) sebagai pedoman pengaturan organisasi, memiliki pusat pimpinan sebagai “pusat jala pumpunan ikan” (dewan pimpinan pusat) sebagai pengatur dan pengendali organisasi, memiliki cabang-cabang di kota-kota perantauan yang sudah cukup warga Sulit Air-nya bagi berdirinya suatu perkumpulan (dewan pimpinan cabang) dan koordinator wilayah untuk mengkoordinasikan kegiatan antar cabang-cabang SAS yang berdekatan.

2. Upaya itu dimulai oleh DPP IPPSA (dibawah Ketum Zulfikar Joesoef Ahmad) bersama IPPSA Jakarta, Bandung dan Yogyakarta dengan mencetuskan “Kebulatan Tekad IPPSA” yang menginginkan SAS sebagai organisasi pemersatu, pada bulan Januari 1965 di Jakarta (Tunas Muda Yogya, Feb/1965). Disusul kemudian dengan keberhasilan DPP IPPSA memprakarsai pergantian nama PAS (Persatuan Anak Sulit Air) menjadi SAS Teluk Betung-Karang pada bulan Maret 1965 dalam suatu deklarasi yang ditandatanani Ketua PAS Nurdin Rauf dan sekretaris Saidina Umar(“Obor Pemuda”, Jkt, 13/2/1965). Kemudian DPP IPPSA bersama IPPSA Jakarta berhasil menyelenggarakan “Musyawarah Organisasi-organisasi Warga Sulit Air”, pada tgl 25 dan 26 Desember 1965 di Ruang Rapat Mesjid Agung “Al Azhar” Kebayoran Baru, Jakarta. Dalam Konperensi IPPSA VII tahun 1967 di Sulit Air dibawah Ketum DPP IPPSA Nur Aksar dicetuskan resolusi yang menghendaki SAS sebagai satu2nya organiasai bagi segenap warga perantauan Sulit Air dan perlu segera dibentuk DPP SAS (Tunas Muda No. 1/1970). Dalam sidang pleno Konperensi IPPSA VIII tgl 3 Februari 1970 di Palembang yang dipimpin Jusna Joesoef Ahmad dan sekretaris Darwin Nurdin ditelurkan resolusi agar segera dibentuk DPP SAS sebagai realisasi persatuan warga Sulit Air dalam suatu organisasi yang diseragamkan namanya (Tunas Muda, Jkt, No.1/1970).

3. Maka pada tahun 1970 warga perantauan Sulit Air sampailah pada saat yang berbahagia untuk menjadikan SAS sebagai organisasi pemersatu, tunggal, terpusat dan memiliki konstitusi organisasi. Jusna Joesoef Ahmad (sekarang Doktor) di dalam editorial “Tunas Muda” edisi Juni-Juli 1970, sebagai pemimpin redaksinya, antara lain menulis: “Pembentukan satu-satunya nama organisasi bagi segenap warga perantauan Sulit Air dicetuskan oleh DPP IPPSA, dijadikan kebulatan tekad, baik di Konperensi IPPSA VII Sulit Air tahun 1967 maupun Konperensi IPPSA VIII Palembang baru-baru ini. Sekarang telah dibentuk Dewan Sponsor dan Panitia Pelaksananya. Telah ditetapkan tempat dan waktunya pada awal Juli 1970 di Ciloto Puncak. Semua ini sangat menggembirakan dan memberi harapan baik. Sebagai golongan muda kita sampaikan terima kasih dan salut atas usaha itu, karena ini juga berarti merealisir cita-cita IPPSA"

Sedang pimpinan umumnya Mashar Muluk, dalam edisi yang sama menulis: “Maka wajarlah kiranya kita di sini mendesak kepada seluruh perantauan Sulit Air untuk menyatukan organisasi perantauan dengan nama S.A.S. (Sulit Air Sepakat) dan kemudian dengan segera mungkin mengadakan pertemuan dengan seluruh SAS yang ada di perantauan. Dibicarakan soal-soal organisasi SAS, tentu pula harus diadakan AD-ART-nya”. 

Dari tulisan Mahar Muluk ini dapat pula kita ambil kesimpulan, bahwa konperensi yang hendak diselenggarakan itu adalah Konperensi Pembentukan DPP SAS, bukan Konperensi SAS I. Tapi sejarah kemudian berbicara lain, bahwa konperensi itu kemudian populer sebagai Konperensi SAS I tahun 1970 di Ciloto. Dan untuk itu kita tentu tidak punya keberatan apa-apa. Namun ada hal lain yang tidak boleh kita lupakan dan perlu kita sebut. Hal apa pula itu? Saya katakan, bahwa tahun 1970 itu benar-benar sudah konduisif bagi penyatuan semua organisasi perantauan Sulit Air di dalam wadah tunggal; SAS sudah dalam kondisi “hamil tua” bagi kelahiran DPP SAS, AD-ART SAS. Selain disebabkan hal-hal yang telah sebutkan di atas, ada peristiwa lain yang perlu kita catat dalam perjalanan Sejarah SAS. 

4. Masyarakat Sulit Air Jawa Tengah (Yogya, Solo, Semarang dan Magelang) pada tgl 8 November 1969 yang dengan dimotori IPPSA Yogyakarta mengadakan pertemuan di Kaliurang, kota pegunungan berhawa sejuk di Gunung Merapi, untuk berlimau-bersilaturrahmi, menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Pertemuan silaturrahmi tsb menghasilkan beberapa keputusan penting. Menghidupkan kembali SAS Jateng, menerbitkan majalah “Tjanang Gunungpapan” sebagai corongnya dan pengganti majalah “Tunas Muda” yang pernah berjaya di Yogya dan telah berpindah ke kota lain; membentuk “Arisan SAS Jateng”; mengadakan pertemuan warga Sulit Air Yogyakarta sekali sebulan dan warga SAS Jateng secara berkala; mengusahakan tanah pekuburan warga Sulit Air di Yogya; mendirikan asrama puteri “Wisma Gunung Putih” bagi IPPSAWATI dan menyelenggarakan Konperensi SAS seluruh Indonesia di Yogyakarta, dengan maksud antara lain untuk membentuk DPP SAS. 
Gedung Wisma baru berdiri megah, yang dibawah naungan Yayasan Gunung Merah (YGM) Jl Jambon I Tegal Rejo. Bukti perjuangan perantauan SAS jauh ke tanah jawa untuk belajar dan berinteraksi.
Hebatnya, sebagian besar keputusan tsb terealisir. SAS Jateng, Arisan SAS Jateng, dan penerbitan “Tjanang Gunungpapan” terlaksana dengan baik. “Tjanang Gunungpapan” yang terbitsetiap bulan sangat besar peranannya dalam masyarakat Sulit Air sebagai sarana penerangan, sarana pendidikan, sarana hiburan dan sarana pembentuk opini masyarakat Sulit Air. Tanah pekuburan SAS berhasil dimiliki di Plumbon Yogyakarta. Yang belum terwujud sampai sekarang adalah “Wisma Gunung Putih” untuk asrama IPPSAWATI Yogya. 

Konperensi SAS yang pertama sebagaimana dikehendaki Kebulatakan IPPSA tsb, SAS Jateng bersama IPPSA-nya siap menyelenggarakannya. Hal ini tak perlu diragukan, mengingat keberhasilan mereka dalam mewujudkan berdirinya “Wisma Gunung Merah” yang fenomenal dan monumental di tahun 1961 dan Konperensi IPPSA ke-V yang sangat berhasil di tahun 1962 di Yogyakarta. Menurut saya, bangkitnya berbagai kegiatan keorganisasian masyarakat Sulit Air pada tahun-tahun sesudahnya justru terinspirasi dan terpicu oleh Konperensi IPPSA ke- V Yogyakarta tsb. Konperensi IPPSA ke- V Yogyakarta yang juga tenar dengan simposium “Memagar Kelapa Condong”-nya, lahirnya semboyan dan semangat “Sulit Air Jaya” yang sampai sekarang masih sering diucapkan dan dituliskan orang. 

Pokoknya tokoh-tokoh SAS Jateng, seperti Zainal Abidin Tipo, Barmawi Miin, Buyung Arfah, Munir St Keadilan, Bakhtiar Sutan Baheram, Bakhruddin Rky Rajo Imbang, Lukman Muman dengan dukungan IPPSA Yogya siap menyelenggarakan konperensi tsb. Mungkin, kebulatan tekad Silaturrahmi SAS dan IPPSA Jateng Kaliurang November 1969 dan keputusan Konperensi IPPSA VIII Palembang Februari 1970 telah menyadarkan SAS dan IPPSA Jakarta untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan mereka di Bandung untuk menyelenggarakan Konperensi Pembentukan DPP SAS di Ciloto Puncak pada awal Juli 1970, sebagaimana telah kita utarakan pada serial sebelumnya. Bila SAS dan IPPSA Jakarta dan Warsab Bandung tidak juga segera mengambil prakarsa tsb, maka tentulah SAS Jateng dan IPPSA Yogya yang akan mengambil alih penyelenggaraan konperensi tsb dan tentulah jalan Sejarah SAS akan menjadi lain. Allah juga yang mengatur dan menentukan segala sesuatu yang telah terjadi itu. 

5. Berdasarkan hal-hal yang saya kemukakan di atas, maka saya berkesimpulan tahun 1970 sebagai tonggak perjalanan amat penting dalam sejarah SAS maupun IPPSA. Tahun 1970 adalah puncak perjuangan IPPSA dalam mewujudkan cita-cita Sulit Air Jaya yang didengung-dengungkan dalam Konperensi IPPSA V IPPSA 1962 di Yogyakata, dengan mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Sulit Air. Tanggal 28 Oktober 1962 lahir “Yayasan Pembangunan Sulit Air” (YAPSA) yang diketuai oleh Djamaluddin Adinegoro (Bapak Jurnalistik dan Tokoh Nasional, orang Lintau yang beristerikan Alidar Jamal, orang Sulit Air), dibantu Amir Shambazy, HM Joesoef Ahmad, Syamsulbahri Nur, Jamaluddin Tambam, Yunus Taher, KaharuddinSaleh, Mawardy Jalins dsb-nya. 12 s/d 16 Agustus 1963 YAPSA menyelenggarakan “Musyawarah Pembangunan Sulit Air”, mirip-mirip “Musyawarah Pembangunan Nasional RI” pada masa itu. 

Cita-cita Adinegoro yang dekat dengan Waperdam Chairul Saleh (orang kepercayaan Presiden Sukarno sebagai tangan kanannya) amatlah besar dan mulia, hendak menjadikan Sulit Air yang dipandangnya potensial untuk dijadikan desa percontohan dan perintis dalam “Pola Pembangunan Semesta Berencana Nasional” yang diputuskan MPR-S (juga diketuai Chairul Saleh) melalui YAPSA tsb. Adinegoro dalam pidato di Musyawarah Pembangunan Sulit Air tsb menyampaikan suatu pidato berjudul “Dari Desa ke Kota, Sulit Air Mempelopori Desa-desa SulitAir” 

Namun sayang, cita-cita besar dan amat luhur itu akhirnya gagal di tengah jalan dengan tumbangnya Pemerintahan Orde Lama Lama secara perlahan pada akhir 1965, setelah pemberontakan PKI/G.30.S yang gagal pada 1 Oktober 1965. YAPSA sebenarnya banyak jasanya dalam memberikan sumbangan kepada berbagai kegiatan masyarakat, namun kegagalannya yang amat fatal adalah pembangunan rumah sakit di Sarosa Sulit Air. Untuk membangun rumahsakit tsb masyarakat telah banyak berkorban, dengan begotongroyong mengangkut pasir dan batu ke lokasi, namun kemudian menjadi usaha yang sia-sia. Sementara itu muncul kompetitor YAPSA yakni Panitia Pembangunan PSA Gando pada awal 1964 di Jakarta di bawah pimpinan RaisTaim St. Alamsyah, hartawan-dermawan Sulit Air di masa itu.

Antara YAPSA dan Panitia PSA kemudian terjadi persaingan keras dan pertentangan tajam. YAPSA punya media namanya Sarosa, Panitia PSA pun punya bulletin “Laporan PSA” yang rajin terbit setiap bulan. Persaingan dan pertentangan berkembang sedemikian rupa, berkembang ke kota-kota perantauan lain, memasuki ranah pribadi dan keluarga. Saya mencatat di Jakarta muncul 16 perkumpulan/yayasan/koperasi dan ada yang punya cabang di kota-kota perantauan lain, yang pada hakekatnya bersumber kepada pertentangan dua kubu tsb. Tahun 1964 dan 1965 merupakan tahun kelam yang amat membahayakan bagi persatuan warga Sulit Air, yang mulai mereda setelah DPP IPPSA dan IPPSA Jakarta berhasil mengumpulkan pihak-pihak yang bertikai dalam “Musyawarah Organisasi-organisasi Warga Sulit Air” tgl 25-26 Desember 1965 di Mesjid Al Azhar Jakarta Selatan dan kemudian mereka bersepakat untuk membentuk SAS Jakarta, yang kepengurusannya dimonopoli oleh senioren-senioren IPPSA seperti telah disebutkan.
Majalah Tunas Muda - corong Informasi media IPPSA sudah ada sejak tahun 1951
Tetapi pertentangan dan perseteruan tsb belum benar-benar mereda sebelum Konperensi SAS di Ciloto 1970 dan bary berakhir serta bersatu kembali setelah Konperensi SAS II tahun 1972 di Palembang dengan terbentuknya DPP SAS “Kopa Bosi” yang dipimpin Rozali Usman-KS Bujang Sati-Rosma Rais-Jamaluddin Tambam, yang mencerminkan penyatuan kekuatan kedua kubu yakni YAPSA (KS Bujang Sati – Jamaluddin Tambam) dan Panitya PSA (Hj. Rosma Rais) di bawah kepiawaian Ketum Rozali Usman, yang juga mantan Ketum DPP IPPSA. (bersambung...)
Sumber: Drs. H. Hamdullah Salim

Tuesday, 12 July 2016

SAS sudah berusia 104 tahun (kisah kedua)

Bukti prasasti SAS ada di kota padang
GAGASAN SAS - SEBAGAI ORGANISASI PEMERSATU

Berdasarkan bukti tertulis yang saya temui, sampai dengan tahun 1970 atau 58 tahun setelah lahirnya SAS di Padang pada tahun 1912, setidaknya ada 14 kota perantauan warga Sulit Air, yang menamakan perkumpulan atau paguyubannya dengan nama Sulit Air Sepakat (SAS). Ke-15 kota perantauan itu adalah: Padang, Pekan Baru, Medan, Tembilahan, Rengat, Teluk Kuantan, Jambi, Palembang, Betung, Palembang, Yogyakarta, Solo, Semarang, Teluk Betung dan Jakarta. Di Bandung masih bernama Warsab (warga Sulit Air Bandung), sebelumnya PPSA (Persatuan Perantau Sulit Air). Teluk Betung dan Jakarta disebut yang terakhir karena kedua kota ini yang terakhir di dalam SAS, berkat perjuangan gigih DPP IPPSA dibawah Ketua Umum Zulfikar Joesoef Ahmad. Sebelumnya, di Teluk Betung perkumpulan kita bernama PAS (Persatuan Anak Sulit Air). Dan di Jakarta POWSA (Persatuan Organisasi Warga Sulit Air) dan 15 nama lainnya.

Salahsatu program kerja DPP IPPSA Zulfikar Joesoef Ahmad (1964 – 1966) yang terpilih melalui Konperensi IPPSA VI di Bandung pada tahun 1964 adalah mempersatukan semua warga perantauan Sulit Air dalam satu organisasi tunggal; disamping IPPSA yang khusus untuk kalangan pelajar dan mahasiswa Sulit Air. Karena banyak sekali kota perantauan Sulit Air yang menamakan perkumpulannya SAS, nama yang ideal bagi organisasi tunggal itu adalah SAS. Untuk itu DPP IPPSA bersama IPPSA Jakarta, Yogya dan Bandung, pada bulan Januari 1965, di ruang rapat SD Gang Thomas Tanah Abang Jakata (kepala sekolahnya Ibu Dahniar Zein), mendeklarasikan sebuah kebulatan tekad untuk mewujudkan sebuah organisasi tunggal bagi segenap warga perantauan Sulit Air yang pengelolaannya dikoordinir oleh sebuah dewan pimpinan pusat (DPP). Sayang tokoh legendaris IPPSA Zulfikar Joesoef Ahmad tidak berusia panjang, tahun 1968 dia berpulang dalam usia 28 tahun (1940 – 1968). 
Diperingati satu abad SAS dihadiri oleh seluruh pengurus cabang SAS & IPPSA se-Indonesia
Berkat perjuangan DPP IPPSA, warga Sulit Air di Teluk Betung – Tanjung Karang, yang punya lebih dari 1000 jiwa, yang perkumpulannya semula bernama PAS (Persatuan Anak Sulit Air), berhasil diyakinkan untuk merubahnya menjadi SAS. Kemudian DPP IPPSA berhasil membujuk 10 perkumpulan warga Sulit Air. Kesepuluh perkumpulan tsb adalah JAPSA (Amir Shambazy), Panitia PSA (Rais Taim St Alamsyah), DPP PEPSA (Syamsubahar Maarif), DPP GEPSA (Zulkarnain Jamin), PEPSA Jakarta (Jalil Muluk), GEPSA Jakarta (Syamsuddin Enek), Perwakilan Muhammadiyyah Sulit Air di Jakarta (Kahar Taher), Budi Caniago (Kuraisyin St Mudo), Cinto Caniago (Kaharuddin Saleh Bujang Sati), Koperasi Wanita Sulit Air Rasyidin Rasyad), ditambah perwakilan warga dari Palembang (B. Dt. Bagindo Malano), Bandung (Saladin Isa) dan Semarang (Bahrul Bahrony) untuk menghadiri “Musyawarah Organisasi-organisasi Warga Sulit Air”, pada tgl 25 dan 26 Desember 1965 di Ruang Rapat Mesjid Agung “Al Azhar” Kebayoran Baru, Jakarta. 

Musyawarah yang berlangsung di bulan Ramadhan itu, bersepakat untuk menghilangkan segala perselisihan yang telah terjadi dan menciptakan sebuah organisasi kesatuan tunggal di Jakarta, yang diberi nama SAS. Maka dibentuklah SAS Jakarta yang dipimpin oleh 3 orang ketua, yakni Annas Nurdin, Darwis Sutan Malano dan Syahruddin Kasim; sekretaris Jalil Muluk, Habibullah S.J. dan Zulkarnain Jamin; bendahara Ny. Syamsariana, Darwis Taher dan H. Sutan Ismail. Dan HZA Ahmad ditunjuk sebagai Pembina. Pada tgl 18 Mei 1969, pimpinan SAS Jakarta beralih kepada kuartet Sofyan Hasan-A. Karim Saleh-Bahrul Bahrony- Jurnalis Uddin, sekretaris Nur Aksar, Zulkarnain Jamin dan Harlis Bahrony. Sebelum rapat pembentukan pengurus baru itu, dibacakan surat DPP IPPSA ditandatangani oleh Ketum Nur Aksar dan Sekum HB Chandra, yang mengusulkan bahwa telah tiba waktunya bagi SAS Jakarta untuk mengadakan musyawarah besar warga Sulit Air untuk menjadikan SAS sebagai organisasi tunggal warga perantauan Sulit Air dan pembentukan DPP SAS. 

PERSIAPAN PEMBENTUKAN DPP SAS 

Perjuangan IPPSA selama 5 tahun akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1970, SAS Jakarta dan Warga Sulit Air Bandung (Warsab) bersepakat untuk mensponsori penyelenggaraan Konperensi Pembentukan DPP SAS tanggal 3 s/d 5 Juli 1970 di villa “Aida” (milik HM Joesoef Ahmad) di Ciloto –Puncak Jabar. Panitia Pelaksana diketuai Dr. Jurnalis Uddin (Jakarta), wakil Rozali Usman (Bandung), sekretaris Nur Aksar (Jakarta), wakilnya Syarman Syam SH (Ketum DPP IPPSA), bendahara Bahrul Bahrony (Jakarta) dan wakilnya Drs. Musmar Muin (Bandung). Ditambah dengan berbagai seksi (A. Karim Saleh, Mishar Bahrony, Aida Joesoef Ahmad, HB Chandra, Harlis Bahrony dan Rainal Rais) Jelas sekali tokoh-tokoh Sulit Air di Jakarta dan Bandung terlihat kompak bersatu dalam kepanitiaan ini. Kalau kita cermati semua nama itu adalah senioren-senioren IPPSA seluruhnya, bahkan ada mantan dan ketum DPP IPPSA yakni A. Karim Saleh, Rozali Usman, Musmar Muin, Nur Aksar dan Syarman Syam, bahkan Jurnalis Uddin juga jadi Pj. Ketum DPP IPPSA Yogya. Dapat pula kita ambil kesimpulan bahwa tahun 1970 tsb adalah tahun senioren-senioren IPPSA (lahir tahun 1951) mengambil alih kepemimpinan baru Sulit Air melalui SAS. Wali nagari Sulit Air Nasrullah Salim Dt. Polong Kayo pada saat ini, juga adalah mantan Sekjen DPP IPPSA Yogya (1957 – 1962). 
Sarasehan yang diselenggarakan SAS-IPPSA cab Jogya bagian tujuan dari sumber akademisi berprestasi
Peralihan tongkat generasi kepemimpinan itu menjadi terasa demikian sempurna dan terasa harmonis karena didampingi oleh suatu Dewan Sponsor sebanyak 39 orang yakni tokoh-tokoh Sulit Air Jakarta-Bandung yang dikenal umum di masa itu, yakni Rozali Usman, Musmar Muin, Ramli Paduko Sutan, Bahar Surin, Usman Ahmad, Amir Syambazy, HM Joesoef Amad, Kaharuddin Saleh Bujang Sati, H. Rais Taim, H. Jamaluddin Tambam, IAL Dt. Nan Sati, Syamsulbari Nur, Darwis St Malano, Darwis Taher, HZA Ahmad, HM Zein, Z.Camil, Mawardy Jalins, Rasyidin Rasyad, Syamsubahar Maarif, H. UsmanTaher, Muhammad Tiding, AB Dt Bijo Dirajo, Marjohan Djamin, Jusuf Cupak, Syamsunur Nur, Junus Taher, Zainuddin, Kolonel Munir, Hasan Basri Taher, Suhaemi Djamin, Abubakar Saad, Ibu Hj. Rosma Rais, Ibu Dahniar Zein, Ibu Elly Amir Shambazy, Ibu Nurma Syamsulbahri, Ibu Rasyidah KS Bujang Sati dan Ibu Hj. Aminah Amran. 

Mungkin Anda bertanya mengapa Rozali Usman, Musmar Muin dan Mawardy Jalins, masuk dalam Dewan Sponsor, bukankah ketiganya itu senioren IPPSA? Benar, tapi ketiganya sudah jadi pengusaha tenar pada masa itu. Musmar Muin dalam kefarmasian (apotik), Mawardy Djalins dalam bidang penerbitan buku, lebih-lebih Rozali Usman dengan CV “Remaja Karya”nya di Bandung sedang naik benar “daun”nya, sadang barayie asam e. Dan ke-6 ibu yang disebut di atas, selain dikenal sebagai tokoh-tokoh wanita Sulit Air di Jakarta (termasuk Uni Rosma yang hartawan-dermawan), juga dikenal sebagai ahli-ahli masak ala Sulit Air yang faham betul selera tinggi urang awak, yang akan membuat konperensi SAS pertama itu sebagai konperensi yang sulit dilupakan di daerah dingin pegunungan Puncak, yang kadarnya jauh lebih dingin daripada sekarang. Bisakah Anda membandingkan komposisi kepemimpinan Sulit Air di Jakarta-Bandung pada tahun 1970 itu dengan komposisi kepemimpinan Sulit Air Jakarta-Bandung sekarang, setelah menempuh kurun waktu 46 tahun? 

Dengan menyebutkan nama-nama tsb, saya juga sekedar ingin mengenang bagaimana hebatnya perjuangan IPPSA dalam menyatukan segenap potensi SDM Sulit Air di Jakarta dan Bandung di kala itu, dalam merajut kembali hubungan silaturrahmi antara pemimpin-pemimpin Sulit Air yang sejak tahun 1964 dirobek-robek oleh perpecahan yang demikian parah dan menyedihkan! Bayangkan di Jakarta ada 16 perkumpulan warga Sulit Air, yang berasal dari dua kubu yang saling berseteru. Dan semua nama yang disebutkan di atas menjadi penggerak atau anggota dari 1-2 perkumpulan tsb. Bayangkan orang-orang yang tadinya walau sudah dipersatukan dalam SAS Jakarta, pada hakekatnya mereka belum barelok betul, masih baudu atau indak sabuni, setidaknya masih malu2, sekarang mereka diharak ke Ciloto, untuk membentuk DPP SAS, bagolak-golak dan makan lomak.
Sumber: H. Drs .Hamdullah Salim