Friday, 13 March 2015

Bilal dan Adzan terakhirnya (Tausyiah Jum'at)


          
        Semenjak Rasulullah wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi.
Bahkan ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi." 

         Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

         Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?" Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih. 

         Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal: "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami." Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

         Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali. 

         Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Dan saat bilal mengumandangkan "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah", penduduk sekitar Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. 

         Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, khalifah Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka. Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

        Subhanallah... kisah diatas ini mampu mencampur adukkan perasaan kita. Mampu membuat kita menitikkan air mata tanda kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, sebagaimana cinta kita pula kepada ummat Muhammad SAW. Itulah pentingnya ukhuwah -- karena sesungguhnya ukhuwah itu merupakan penanda iman kita.

Anjuran kepada kaum pria

Sumber: Fb One Day One juz

Thursday, 12 March 2015

Pak Nasrul pemberi inspirasi


           Masih ingat dengan bapak Nasrul alias Mak Nai (saudara sekampung memanggil beliau) yang tiba-tiba jadi terkenal ketika pertengahan awal November tahun 2014 lalu ? Hal itu diungkap pertama oleh situs www.merdeka.com diikuti oleh banyak media lain nya, yang menampilkan berita inspiratif juga perjalanan hidup yang mengharukan.Biar yakin coba cari di mbah gogel ketik "pak Nasrul tukang photo" pasti banyak kisah nya diceritakan.

         Perjalanan hidup beliau cukup memilukan bagi republik ini, disaat sudah berusia senja seluruh sisa tenaga beliau tumpahkan pengabdian dalam sikap pantang menyerah. Banyak lagi Nasrul - Nasrul yang lain di pelosok negeri ini belum terekspose. Semoga nanti kisah pak Nasrul ini bisa menanamkan kepedulian bagi sekeliling kita. Asa kita sampaikan kepada pihak pemda, nanti nya bisa membuat nasib dan peruntungan masa tua sodara-sodara yang lain  lebih terjamin terutama dari pemerintah.

          Bapak Nasrul saat ini hanya tinggal sendiri terpisah dari saudaranya di daerah pasar rumput yakni di gedung SAS Menteng. Namun untung disana beliau banyak memiliki teman dan dunsanak. Bukan nya beliau tidak memiliki saudara ditanah Betawi ini, bahkan ada salah seorang keponakannya rela mengorbankan waktu dan materi untuk merawat sang Datuk ini. Namun karena sifat pejuang dan keras hati untuk hidup mandiri, semua bantuan itu beliau abaikan. 
Memperlihatkan photo sebuah rumah, di kampung halaman nya
          Sempat pula beberapa kali dipulangkan ke kampung halaman nagari Sulit Air, tidak berapa lama kembali lagi ke rantau Jakarta. Bahkan awal Januari kemaren, ketika wajah nya menghiasi media internet sempat mau digaruk oleh dinas Sosial pemda DKI dikira seorang tuna wisma dan pemulung, untung semua teman-teman beliau membela nya. Happy nya setelah itu, pihak pemda tak lupa memberikan bungkusun sembako untuk beliau.

         Sekarang ini dimasa tua nya, hanya melekat sebuah kamera lama yang jadi mata pencaharian sehari-hari dan tas nya dijadikan alas kepala untuk tidur. Disaat teknologi semakin canggih, kamera yang beliau gunakan boleh dibilang sudah ketinggalan zaman. Upah yang beliau terima juga jauh dari kata memuaskan, karena hasil photo selesai nya 3 harian tidak banyak orang yang memakai jasa nya. Tetapi jangan sepelekan orang Limo Singkek ini, dari hasil lensa nya pulalah publikasi warga SAS diperantauan ini dulu terekpose dan menjadi rujukan berita untuk warga kita. Hanya karena suratan takdir dari yang Kuasa, membuat nasib beliau sedikit kurang beruntung dari yang lain nya.

           Saat ini pengurus SAS Menteng menerima beliau dengan baik, menjadikan gedung ini sebagai peristirahatan untuk memulai rutinitas bekerja setiap hari di daerah Mall Ambasador  dan Plaza Festival Kuningan. Bahkan ketika masuk rumah sakit Persahabatan Rawamangun selama beberapa waktu lalu, teman-teman SAS beliau lah yang ikut andil merawat disamping keluarga nya yang selalu ikut memantau.

          Datuk Nasrul yg hampir berusia 80 tahun ini, sekarang sudah banyak ditemani oleh sodara-sodara kita yang lain diluar sana, boleh jadi beliau tidak mengharap belas kasihan tapi terus terang membuat hati kita terusik menebus jiwa juang untuk nya. Jika ada sodara merasa sekampung yang berempati silahkan sisihkan hasil usaha anda untuk mak Nai ini, niscaya tidak akan berkurang harta yang sudah diberikan Allah kepada kita.
Pak Iqbal seorang karyawan, rela berbagi walau belum kenal sebelum nya
          Ketika beliau sibuk dengan jepretan untuk mencari penghidupan sesuap nasi, justru dari lensa teman-teman dunia maya juga beliau sekarang menjadi cukup terkenal sampai saat ini. Seperti di populerkan salah satu teman FB Iqbal Fahri di laman facebook nya, penuh dengan cerita pak Nasrul serta sudah di share 15 ribu orang. Minimal kisah beliau bisa menjadi sebuah rujukan dan peringatan bagi yang muda-mudi bahwa jangan lelah berjuang, lalui hidup mu dengan kemauan dan selalu istiqomah dijalan Tuhan. Semangat Mak Nai.

Serasa jadi saodara sendiri, disayangi oleh anak gadis (Plaza Festival Kuningan)
--- Sekian ---